Pemimpin yang kehilangan pesona metafisika[1] adalah pemimpin yang mandul secara prioritas. Efek langsung dari kemandulan itu sungguh mengerikan. Hal tersebut tampak nyata di Indonesia yang saat ini lambungnya sedang dirobek-robek oleh optimisme buta pemimpinnya. Optimisme tersebut terdengar merdu di podium tetapi palsu. Kepalsuan yang sedemikian terbukti melalui kengerian ekologis yang tak terbendung akhir-akhir ini. Per 28 September 2026, luas indikatif lahan terbakar di Kalimantan Barat mencapai sekitar 38.310,86 hektare[2]. Pada awal Oktober, kebakaran juga melanda Seram Bagian Timur, Maluku, dengan luas sekitar 40 hektare serta kawasan hutan dan lahan di Tidore Kepulauan, Maluku Utara, dengan perkiraan luas sekitar sembilan hektare.[3]
Di tengah luka dan berjatuhan nyawa di persimpangan jalan akibat asap kebakaran hutan, pemimpin kita sedang mimpi basah. Mimpi itu mencapai ejakulasi prematur ketika seremoni kekuasaan dan pelantikan pejabat istana tampil seolah-olah adalah jawaban atas kengerian yang dialami masyarakat. Persoalannya bukan bahwa setiap pelantikan pejabat tidak penting, melainkan setiap keputusan politik harus ditempatkan dalam peta prioritas yang tepat. Ketika api membutuhkan pemadam dan rakyat membutuhkan udara yang layak dihirup, seremoni kekuasaan yang meriah hanya menjadi tontonan yang menutupi kegagapan. Itulah ejakulasi prematur yang saya maksudkan sebagai, kenikmatan sesaat bagi istana yang selesai sebelum kebutuhan rakyat sempat dijawab. Pemimpin berpesta di atas kesengsaraan rakyatnya.
Tanpa rasa malu, saya dapat menyebut pemimpin Kabinet Merah-Putih saat ini kehilangan pesona metafisika. Mengapa demikian? Karena mereka tidak kritis dalam mendeteksi prioritas utama atas tanda-tanda zaman. Pemimpin yang buta terhadap tanda-tanda zaman dapat menjadi lebih berbahaya daripada 'pemimpin otoriter'. Pemimpin seperti ini terlihat sibuk menjalankan agenda kekuasaan, tetapi kesibukannya tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa negara sedang bergerak ke arah yang benar.
Krisis ini pada akhirnya mengungkapkan bahwa yang terbakar bukan hanya hutan dan lahan. Yang turut terbakar adalah kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya. Kepercayaan itu hanya dapat dipulihkan oleh pemimpin yang kembali memiliki pesona metafisika, yaitu pemimpin yang membaca hutan sebagai rumah kehidupan dan asap sebagai jeritan ekologis lalu menempatkan keselamatan manusia dan kelestarian alam di atas seremoni kekuasaan. Selama kemandulan prioritas itu belum disembuhkan, optimisme hanya akan menjadi bahasa yang kehilangan hubungan dengan kenyataan dan api akan terus menyala di atas rumah yang sama.***

No comments:
Post a Comment