Oh Suara Keindahan tertinggi yang mengagumkan. Engkau adalah Sang ADA yang telah ada dalam kekekalan. Walau dalam kekekalan, Engkau berkenan melantunkan suara yang indah. SuaraMu mengadakan segala sesuatu serta menjadikannya ada. Keberadaan ada pada dirinya membawa keindahan sehingga dengan caranya yang khas turut memancarkan keindahan. Sejak saat itulah, suara tersebut dikenal dan dikagumi melalui keindahan dari segala yang ada.
Suara purba itu mewujud dalam sejarah lewat inkarnasi Kristus. Dialah Keindahan tertinggi yang diutus Bapa untuk menyuarakan hal-ikhwal kerajaan surga. Oleh sebab itu, Bapa berseru kepada para murid di gunung Tabor: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat 17:5). Suara ini sungguh memikat hati. Aku seolah-olah dihantam oleh suara gunung Tabor yang indah itu untuk mengarahkan hidupku kepada Kristus. Rasanya tidak cukup kalau suara tersebut berlalu begitu saja. Sekalipun ada banyak suara, hanya suara ini berhasil menembusi keberadaanku.
Kristus sebagai Suara Keindahan tertinggi, ketika hadir dalam sejarah manusia, Ia menyuarakan visi ilahi yakni kerajaan surga. Visi ini diejawantahkan melalui pengajaran, karya dan pergaulanNya bersama semua orang khususnya dengan domba-domba yang terluka. Ia sendiri pernah berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mrk 2:17). Visi ini tergenapi secara sempurna melalui pengorbananNya di Salib. Pengorbanan ini memancarkan keindahan ganda: mengobati domba yang terluka sekaligus membuka pintu surga.
Berkat suara visioner Keindahan tertinggi itu, aku yang terluka kini terobati bahkan dipanggil sebagai calon imam diosesan Amboina. Sungguh tak terkatakan rahmat sebesar ini. Bukan karena kesucian aku dipanggil, melainkan karena rahmat melampaui kelemahanku dan karenanya aku mendengar, membatinkan serta menjawab ‘ya’ atas suara itu. Saat mengatakan ‘ya’ maka apa yang menjadi visi Kristus itu adalah juga visiku sebagai subjek yang dipanggil. Dipanggil bukan untuk menghakimi kaum pendosa melainkan membawa mereka kepada Kristus untuk mengalami pemulihan. Aku seorang pendosa dipulihkan karena rahmat, sekarang aku pun harus membawa semua orang untuk mengalami pemulihan yang sama.
Membawa yang rapuh kepada Kristus adalah keindahan tertinggi. Prinsip utamaku terinspirasi dari perkataan Paus Fransiskus, yakni “Gereja bukan penghakim bagi dunia melainkan rumah sakit.” Melalui prinsip ini, ketika berhadapan dengan realitas umat di tempat pastoral, khususnya kaum muda yang malas beribadah dan sering mabuk-mabukan, saya tidak menjauhi mereka melainkan bergaul bersama mereka. Berkat pergaulan itu banyak anak muda mengalami perubahan; bahkan ada seorang pemuda dikenal sebagai pemabuk, namun pada akhirnya ia berdiri di depan mimbar menyanyikan mazmur. Seorang pemabuk bertindak sebagai pemazmur adalah keindahan yang tak terkatakan. Sebagai subjek yang terpanggil, saya diutus untuk membawa yang terluka kepada Kristus. Itulah keindahan tertinggi.***
[Fr. Rio Batlayeri]
Download pdf-nya di DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.23311886

No comments:
Post a Comment