“Allah Turut Bekerja” Renungan: Minggu, 26 Juli 2026



 


Hari Minggu Biasa XVII

Hari Orangtua, Kakek dan Nenek


Kalau boleh jujur, saat ini kita hidup di zaman yang bisa disebut sebagai era galau. Hampir tidak ada orang yang tidak pernah galau. Kadang-kadang tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba orang sudah mengunggah story yang penuh kegalauan. Ada yang galau tanpa sebab yang jelas. Ada yang galau karena sakit, dompet kosong, putus cinta, pasangan berselingkuh—entah selingkuh tipis-tipis ataupun selingkuh tebal-tebal. Ada pula yang galau karena biaya hidup yang semakin tinggi: harga beras naik, sayur, ikan dan bawang semakin mahal serta ditambah lagi korupsi di Indoneisa yang semakin kronis.

Berhadapan dengan segala kegalauan itu, Rasul Paulus berpesan kepada kita manusia-manusia galau saat ini: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”  Artinya, ketika kita sedang galau, Allah tidak menyembunyikan wajah-Nya. Justru di saat-saat seperti itulah Allah hadir. Percaya atau tidak, Allah tetap ada di situ. Dia menyertai kita, berjalan bersama kita, dan tidak pernah meninggalkan kita.

Sejak semula Allah telah memilih dan memanggil kita kepada keselamatan. Karena itu, ketika hidup kita dipenuhi berbagai persoalan, Allah tetap bekerja. Ia hadir bukan untuk menambah beban kita, melainkan menawarkan jalan menuju kebaikan. Raja Salomo telah mengalami hal yang serupa. Salomo galau karena harus memimpin bangsa Israel pada usia muda. Ia meragukan kemampuannya untuk memimpin bangsa yang besar itu. Namun, Allah turut bekerja. Allah hadir dan menawarkan kebaikan. Dari segala kebaikan yang ditawarkan, hanya satu yang Salomo minta, yaitu hati yang bijaksana untuk memahami, menimbang, dan memutuskan mana yang baik dan mana yang tidak baik; mana yang berkenan di hadirat Allah dan mana yang tidak berkenan di hadirat Allah; serta mana yang menyelamatkan dan mana yang membinasakan. Permintaan itu pun dikabulkan oleh Allah.

Saudara-saudari yang terkasih, kebijaksanaan adalah pintu menuju Kerajaan Surga. Kebijaksanaan menuntun seseorang untuk memilih apa yang sungguh bernilai dalam hidup. Karena itu Yesus menggambarkan Kerajaan Surga seperti seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Ketika ia menemukan mutiara yang sangat berharga itu, ia pergi menjual seluruh miliknya demi memperoleh mutiara tersebut. Keputusan menjual segala miliknya menunjukkan kebijaksanaan. Ia mampu memahami, mempertimbangkan, lalu memutuskan bahwa mutiara itu jauh lebih berharga daripada semua harta yang dimilikinya.

Demikian pula dengan hidup kita. Orang yang berhati bijaksana akan berani melepaskan apa pun yang menghalangi dirinya memperoleh Kerajaan Surga. Sebaliknya, hati yang dikuasai kegalauan sering kali sulit melihat mana yang sungguh bernilai. Tidak jarang hal-hal yang baik, benar, dan menyelamatkan justru disingkirkan karena hati telah dipenuhi ketakutan, kecemasan, atau keputusasaan.

Oleh sebab itu, marilah kita terus memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepada kita hati yang arif dan bijaksana. Dengan hati yang demikian, kita tidak dikuasai oleh kegalauan, tetapi mampu mengalahkan kegalauan itu. Kita mampu memilih "mutiara surgawi", yaitu Kerajaan Allah yang menjanjikan keselamatan kekal.

Hari ini kita juga merayakan Hari Orangtua, Kakek, dan Nenek Sedunia. Marilah kita berdoa bagi orang tua, kakek, dan nenek kita. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan hati yang arif dan bijaksana kepada mereka, sehingga dalam setiap musim kehidupan mereka tetap setia mencari “mutiara yang paling berharga”, yakni Kerajaan Allah. Amin.

                                                                                                

Penulis: Fr. Rio Batlayeri


No comments:

Post a Comment