Hati menjadi gudang jiwa. Gudang jiwa itu sifatnya reflektif. Dari sifat khas itu, hati menjadi pisau pembeda antara yang lahiriah dan rohaniah. Yang rohaniah berasal dari atas, sedangkan yang lahiriah berasal dari bawah. Rohaniah memberi pencerahan atas budi untuk melangkah di aspal lahiriah. Aspal lahiriah tidak selalu yang negatif. Aspal ini ada yang putih berkilauan dan ada yang hitam tak tentu.
Hati sebagai pisau pembeda, memancarkan cahaya reflektif dari yang rohaniah untuk selalu berlabuh pada aspal yang putih berkilauan. Tugas hati adalah memancarkan kebijaksanaan sebagai mantra ajaib di antara kebingungan-kebingungan. Mantra itu memikat dan mengikat budi agar tidak melenceng ke jalan absurd melainkan tetap eksis di tengah amukan badai yakni terus berada dalam sang ADA. Dia itu ada di belakang, di tengah dan di depan; Dia itu masa lalu, masa kini dan masa depan. Dia itu tidak berada nun jauh di sana melainkan di hati kita.
Jadi, hati sebagai gudang jiwa dan pisau pembeda itu adalah tempat Sang ADA bersemayam. Oleh karena itu, jangan biarkan gudang itu roboh atau pisau itu tumpul. Teruslah merenovasi dan mengasah di dalam keberlimpahan rahmat melalui doa dalam Roh dan Kebenaran.
Penulis: Fr. Rio Batlayeri

No comments:
Post a Comment