Kesunyian Sebagai Ramuan Penangkis Kesepian: Refleksi 16 Januari 2026


  

  Terkadang kekuatan terbesar tampak ke permukaan saat kita memilih kesunyian. Kesunyian yang membahagiakan membuka tabir kepalsuan. Tabir ini menutup hati kita untuk memasuki kemurnian jiwa. Efek samping dari penghalang ini adalah kekaburan orientasi hidup. Ketika angin bertiup ke utara, hidup itu akan pergi ke utara; atau angin bertiup ke selatan, hidup itu pergi ke selatan. Hal serupa seperti "seorang yang membangun rumah di atas pasir" (Mat 7:26). 

 Ramuan tradisional untuk menangkis kekaburan orientasi hidup itu ialah memilih mengurung diri dalam kesunyian yang membahagiakan. Kesunyian yang membahagiakan bukan tanda kesepian. Kesunyian beda dengan kesepian. Kesunyian adalah pertemuan dengan Pribadi tak kasat mata. Sedangkan kesepian adalah meninggalkan kesunyian sambil memahat diri dalam kecemasan yang menggelisahkan. Kesunyian memenuhi hati dengan kebijaksanaan; kesepian melongsorkan hati dari kepadatan kebijaksanaan. 

  Dunia kita yang serba sibuk seringkali menarik banyak pribadi kepada kesepian. Hidup seolah-olah tidak hidup. Kesepian membunuh mental. Di luar tampak ceria tapi di dalam rapuh berkeping-keping. Kelihatan seperti pekerja keras, namun sebaliknya sedang memikul kuk mati rasa. Sungguh kesepian ini memaksa orang untuk mati sebelum waktunya. 

   Kini di medan sengit kesepian itu ada percik harapan yang tumbuh mekar dari Sabda Yesus: "Datanglah kepadaKu kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan melegakannya" (Mat 11:28). Sabda ini menjadi warisan harta pusaka yang menggairahkan. Yesus seakan-akan berbicara kepada manusia-manusia sibuk di zaman ini agar lekas melepaskan kesibukan dalam kesepian untuk melangkah menuju kesunyian yang membahagiakan. 

  Dalam kesunyian, Dia datang menyapa, memeluk dan membalut jiwa dan luka mental dengan cinta dan kebijaksanaan-Nya. Dari kesunyian Allah hadir untuk memulihkan. Yesus lahir bukan di tempat pesta pora tetapi di kandang yang sunyi. Hanya dalam kesunyian, Cahaya Ilahi terpancar untuk mengobati kerapuhan dan keletihan manusia. Itu artinya, ramuan tradisional dan spesial untuk mengobati kanker kesepian adalah kesunyian yang membahagiakan. 

    Surga dan dunia bersatu bukan dalam pesta pora. Allah berinkarnasi menjadi manusia bukan di tengah keributan atau suara knalpot racing. Tetapi Ia menyatu dalam kemanusiaan di tengah malam sunyi senyap. Hanya dalam kesunyian, batin menjadi tenang dan jiwa yang redup cahayanya digairahkan untuk bercahaya. Cahaya itu membawa manusia melintasi masa demi masa dengan kepastian tanpa keraguan. Kepastian tersebut membawa kehidupan dan bukan kematian. Kehidupan itu tidak berjalan seturut mata angin tetapi seturut batu dasar rumah kehidupan yaitu Kristus. Alam maut tidak dapat menguasainya (bdk. Mat 16:18).

Penulis: Fr. Rio Batlayeri 

No comments:

Post a Comment