Marilah kita diam dan hening
sebentar sambil masuk ke hati kita masing-masing seraya bertanya: “masih adakah
Kristus di hati saya?”.
Saya bertanya demikian karena
seluruh rentetan perjalanan tahun liturgi diawali dengan persiapan kelahiran
Yesus Kristus (Adven), kemudian berpuncak pada misteri sengsara, wafat dan
kebangkitan Kristus (Paskah) dan berakhir pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus
Kristus Raja Semesta Alam. Diawali bersama Kristus, dipuncaki bersama Kristus
dan diakhiri bersama dengan Kristus. Semuanya ini dimaksudkan supaya Kristus
menjiwai semua di dalam semua; menjiwai hati, budi, tutur kata dan tindakan
kita. Niat hati kita adalah niat hati Kristus, pikiran kita adalah pikiran
Kristus, tutur kata dan tindakan kita adalah juga tutur kata dan tindakan
Kristus.
Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua,
menunjukkan secara jelas bahwa “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk
Dia” (Kol. 1:16). Melalui Kristus, kita diciptakan dan melalui Dia pula kita
diselamatkan. Segala yang ada di surga, di bumi dan di bawah bumi berasal dari
Dia dan diarahkan kepada Dia. Kita hidup oleh Kristus, berziarah di dunia ini
bersama Kristus dan mati pun bersama Kristus. Kristus merajai seluruh hidup
kita. Sebab, begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia
menganugerahkan Anak-Nya yang Tunggal, supaya melalui Dia semua dipersatukan di
dalam Bapa.
Penginjil Lukas melukiskan dengan
baik kepada kita bahwa Kristus sebagai raja di atas segala raja tidak memimpin
dengan kekuasaan duniawi melainkan dengan kekuasaan ilahi; Dia menyelamatkan
rakyat-Nya bukan dengan pedang dan gadai melainkan dengan Salib, dengan
Darah-Nya yang maha indah. Melalui Salib itu Sang Raja ditinggikan dan
dikurbankan demi pendamaian dunia serta menyatukan surga dan dunia, Allah dan
manusia. Itulah raja yang sejati. Dia memerintah bukan dengan kebengisan tetapi
dengan kasih tak bersyarat.
Kasih itu menggerakkan kita untuk
berani bersaksi. Niat yang lahir dari hati harus ditujukan kepada kesaksian
akan Kristus; pikiran, tutur kata dan tindakan harus pula diarahkan pada
kesaksian akan Kristus yang adalah Raja. Apa dipikirkan, dikehendaki,
dikatakan dan dilakukan oleh Kristus itulah yang harus kita nyatakan melalui
kesaksian hidup kita masing-masing. Ini menjadi tugas kita bersama teristimewa
orang muda. Sebab tema Hari Orang Muda Sedunia ke-40: “Kamu juga adalah
saksi-saksi-Ku. Karena kamu telah bersama-sama dengan Aku” (Yoh. 15:27). Hari
Jumat kemarin, melalui via zoom call dalam acara Catholic
Youth Conference Paus Leo XIV menjawab pertanyaan salah seorang pemudi
sekaligus memberi pesan bunyinya begini: “You are not only the future
of the church. You are the present. Your voices, your ideas, your faith, matter
right now. And the Church needs you. The Church Needs what you given to share
with all of us (Kalian bukan hanya masa depan Gereja, kalian adalah masa kini.
Suara kalian, ide-ide kalian, iman kalian penting saat ini juga, dan Gereja
membutuhkan kalian. Gereja membutuhkan apa yang telah diberikan kepada kalian
untuk dibagikan kepada kita semua). Karena itu semoga di Hari Raya
Krustus Raja dan Hari Orang Muda Sedunia ke-40 ini mari kita membaharui
semangat kita. Kita jadikan Kristus sebagai arah dan tujuan hidup kita. Kita
membuat niat dalam hati dan berpikir, bertutur kata dan bertindak semaunya untuk Kristus.
Biarlah Kristus merajai hati, budi, pikiran, tutur kata kita dan tindakan kita.
Penulis: Fr. Rio Batlayeri

No comments:
Post a Comment