Peringatan Wajib St. Yosafat Kunzewich, Uskup dan Martir
"Peziarahan tanpa kebijaksanaan adalah kecelakaan." Kita adalah para peziarah yang sedang berjalan melewati terowongan kehidupan yang gelap dan menakutkan. Kita tidak bisa menanti cahaya dari terowongan gelap itu supaya kita bisa melangkah. Kalau kita terus menunggu cahaya dari terowongan yang gelap itu niscaya, kita tidak akan pernah melangkah. Sebab mana mungkin terowongan itu dapat menampakkan cahayanya? Itulah sebabnya, kita harus menjadi cahaya atas terowongan tersebut. Kitalah lampu-lampu kecil yang bercahaya bagi terowongan itu. Cahaya sejati lahir dari hati yang arif; hati yang bijaksana, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama "Hendaknya kalian belajar menjadi bijaksana dan jangan sampai jatuh" (Keb 6:9).
Hati adalah
tempat istimewa bagi kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Tuhan tidak datang
dari hayalan tetapi dari hati yang siap menerima Dia untuk berbicara. Itulah
percakapan batin. Percakapan ini lembut nan halus yang dengannya kita yang
berada dalam kesesakan meminta tolong kepada-Nya.
Percakapan batin
menjadi pilihan paling tepat untuk menerima pertolongan pada waktunya. Di saat
kita dilanda musibah larilah ke hati. Di saat kita mengalami kebimbangan dan
keputusasaan larilah ke hati. Di saat beban hidup terasa berat larilah ke hati.
Di saat dalam godaan iblis, larilah ke hati. Di sana kita berjumpa dengan Bapa
kita yang selalu menanti kita dengan cinta yang tak terbatas. Berkomunikasilah
dengan Dia. Katakanlah seperti yang dikatakan oleh kesepuluh orang kusta
"Yesus, Guru kasihanilah kami; atau Bapa kasihanilah kami" (Lih. Luk
17:13). Kata-kata sederhana ini merupakan ungkapan permohonan yang lahir dari
hati yang bersahaja. Niscaya, permohonan yang lahir dari hati yang bersahaja
ini akan mendatangkan berkat yang menakjubkan yaitu pentahiran atas musibah,
atas luka, atas beban hidup dan atas godaan iblis sebagaimana yang dialami oleh
kesepuluh orang kusta yaitu sembuh dari penyakitnya (Luk 17:14).
Tetapi pertanyaan apakah percakapan batin itu selesai pada waktu Allah mengabulkan permohonan kita? Tidak! Percakapan batin harus terus berjalan tak henti. Percakapan batin harus mengantar kita dari rasa puas menuju rasa syukur, sebagaimana yang dibuat oleh salah satu dari kesepuluh orang kusta itu. Kita harus berani tersungkur sambil berkata "Yesus, Guru Terima kasih; atau Bapaku terima kasih. Itulah kebijaksanaan sejati. Kita tidak hanya sekedar meminta tolong tetapi juga berterimakasih atas pertolongan itu (Luk 17:16).
Penulis: Fr. Rio Batlayeri

No comments:
Post a Comment