Pekan Biasa XXVIII
Peringatan Wajib Sta. Teresia dari Yesus, Perawan dan Pujangga Gereja
Ef 1:1-10; Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4.5-6; Luk 11:47-54
Sobat Allah yang berbahagia. Pernahkah kita menerima sesuatu yang sangat berharga, tetapi karena terlalu biasa melihatnya, kita lupa akan nilainya? Demikian juga dengan rahmat Allah. Kita sering meminta rahmat, bersyukur atas rahmat, bahkan berbicara tentang rahmat. Tetapi kita lupa bahwa rahmat bukan sekadar barang atau kesuksesan semata. Rahmat itu memiliki wajah. Wajah itu adalah Kristus.
Rasul Paulus dalam bacaan pertama berulang kali mengatakan: “di dalam Kristus.” Di dalam Kristus kita dipilih. Di dalam Kristus kita ditebus. Di dalam Kristus kita memperoleh pengampunan. Bahkan seluruh rencana Allah adalah mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus. Dengan demikian, Kristus adalah pusat segala rahmat Allah. Dia kepenuhan segala rahmat; dan rahmat itu adalah diriNya sendiri. Maka, kalau kita mencari rahmat, jangan pertama-tama mencari sesuatu yang fana. Carilah Kristus. Sebab di dalam Kristuslah segala rahmat Allah mencapai kepenuhannya.
Injil hari ini memperlihatkan sesuatu yang menyedihkan. Sesuatu itu ialah penolakan terhadap rahmat. Yesus mengecam para ahli Taurat dan orang Farisi yang membangun makam para nabi. Mereka menghormati makam itu, namun menolak rahmat yang diwartakan oleh para nabi. Bahkan mereka sendiri menolak Yesus yang adalah rahmat itu sendiri. Rahmat sudah berdiri di hadapan mereka. Rahmat sudah berbicara kepada mereka. Akan tetapi mereka menutup diri.
Santa Teresa dari Yesus yang kita peringati hari ini menunjukkan kepada kita jalan terbaik untuk menerima rahmat itu, yakni menjadikan Allah satu-satunya pusat hidup. Ia pernah berkata: Solo Dios Basta [Allah saja cukup]. Tidak ada hal lain yang lebih mempesona selain Allah. Tidak ada harta yang berharga selain Allah. Tidak ada kasih yang sempurna selain kasih Allah. Itu artinya, kita hidup oleh Allah, dituntun oleh Allah dan diselamatkan oleh Allah. Hidup kita tidak lagi berpusat pada apa yang kita inginkan, tetapi pada kehendak Allah yang menyelamatkan. Itulah rahmat yang sesungguh-Nya. Rahmat yang dengannya semua orang dilahirkan dalam Roh dan Kebenaran, serta dimerdekakan dalam Kristus yang adalah pusat segala rahmat.
Teladan yang sama kita temukan dalam diri Santa Perawan Maria. Ia adalah Bunda yang penuh rahmat. Dirinya penuh dengan rahmat karena ia membuka hati untuk menerima dan melaksanakan kehendak Allah dengan setia, yakni mengandung dan melahirkan Kristus Yesus, yang adalah pusat segala rahmat. Kesediaannya itu ia ungkapkan dalam perkataannya: “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Maka dari itu, setiap kali kita mendaraskan Rosario dalam bulan Oktober ini, kita sedang bersekolah di sekolah Maria. Di sekolah ini, kita dididik untuk membuka hati dan semakin mencintai Kristus, serta menempatkanNya sebagai pusat hidup kita; pusat segala rahmat. Dengan demikian, segala sesuatu yang kita pikirkan, yang kita ucapkan, yang kita perbuat selaras dengan pikiran, perkataan dan perbuatan Kristus.
Penulis: Fr. Rio Batlayeri

No comments:
Post a Comment