“Betlehem: Fajar Harapan dan Rumah Kehidupan” Renungan: Rabu, 24 Desember 2025

 


Peryaan Malam Natal (Vigili Natal)


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Setiap tahun kita merayakan Natal. Tema Natal tahun ini adalah “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.” Tema ini menjadi sepercik harapan di tengah luka yang dialami oleh begitu banyak keluarga pada zaman ini. Data yang dirilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat bahwa kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia telah mencapai 31.593 kasus. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan jeritan keluarga-keluarga yang sedang sakit dan terluka.

Di tengah kenyataan pahit ini, Gereja melalui warta sukacita Natal mengajak kita semua yang berkehendak baik untuk mengarahkan pandangan dan mengayunkan langkah menuju Betlehem. Kita diajak untuk bergegas menyambut fajar yang terbit di Betlehem. Dalam keputusasaan, kebimbangan, ketakutan, dan kehancuran, Malaikat Tuhan berseru:
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan, di kota Daud.”

Kita belajar dari para gembala. Ketika mereka mendengar warta sukacita Natal, mereka tidak menunda, tidak ragu, dan tidak tinggal diam. Mereka segera bergegas menuju Betlehem. Mereka berjalan menembus malam yang gelap menuju tempat di mana fajar keselamatan terbit. Demikian pula keluarga-keluarga yang terluka dipanggil untuk berani melangkah keluar dari malam kekecewaan, malam sakit hati, malam dendam, malam kekerasan, dan malam perselingkuhan, menuju Betlehem—tempat fajar harapan, fajar sukacita, fajar pengampunan, dan fajar saling pengertian terbit. Di sanalah Penyelamat kita telah datang. Ia datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memulihkan. Ia datang untuk menyelamatkan keluarga. Setiap keluarga yang berjalan dalam kegelapan akan melihat terang yang besar; terang itu memancarkan sukacita dan menyembuhkan ratapan keluarga yang retak.

Saudara-saudari, marilah kita merenungkan makna Betlehem itu sendiri. Kata Betlehem berasal dari bahasa Ibrani, Beit Leem (בֵּית לֶחֶם)Beit (בֵּית) berarti rumah atau rumah tangga, dan Leem (לֶחֶם) berarti roti. Jadi, Betlehem berarti Rumah Roti. Disebut Rumah Roti karena Betlehem merupakan daerah pertanian yang subur dan dikenal sebagai penghasil gandum. Namun, secara lebih mendalam, Betlehem menunjuk pada rumah di mana Yesus, Sang Roti Hidup yang turun dari surga, hadir dan tinggal di tengah manusia. Roti itu dibaringkan di palungan (tempat makan ternak) agar kita yang adalah domba-domba-Nya boleh menimba kehidupan dari satu Roti yang sama.

Selain itu, istilah Betlehem juga dikenal dalam bahasa Arab, Bayt Lam (بَيْت لَحْم).
Bayt (
بَيْت) berarti rumah, dan Lam (لَحْم) berarti dagingRumah Daging. Arti ini sering dikaitkan secara simbolis dengan nubuat Nabi Yehezkiel tentang tulang-tulang kering yang dihidupkan kembali sebagai tanda pemulihan. Lebih dalam lagi, makna ini menunjuk pada rumah di mana Sang Sabda Allah berinkarnasi dan menjadi manusia—menjadi daging—demi keselamatan kita.

Di Betlehem juga kita menemukan sebuah keluarga sederhana: Yesus, Maria, dan Yusuf. Dalam keluarga ini ada kehidupan, kasih, ketaatan, pengorbanan, dan harapan. Betlehem bukan sekadar tempat geografis, melainkan sebuah rumah rohani tempat Allah hadir di tengah keluarga manusia.

Semoga melalui warta sukacita Natal ini, setiap keluarga dipersatukan menjadi satu roti yang membawa kehidupan, bukan kematian; membawa kasih, bukan kebencian; membawa pengampunan, bukan dendam; membawa pengharapan, bukan rasa bersalah. Semoga keluarga-keluarga kita menjadi Betlehem-Betlehem baru: tempat fajar harapan terbit, tempat sukacita bertumbuh, tempat pengampunan mengalir, dan tempat saling pengertian dirajut setiap hari. Semoga kita berjalan dalam persatuan, sebagaimana Allah sendiri adalah satu.

Paus Fransiskus mengingatkan kita:
“Kita tidak memiliki keluarga yang sempurna. Kita tidak punya orang tua yang sempurna; kita tidak sempurna; kita juga tidak memiliki anak yang sempurna. Kita memiliki keluhan satu sama lain; kita saling mengecewakan. Tidak ada pernikahan atau keluarga yang sehat tanpa olah pengampunan. Pengampunan adalah sterilisasi jiwa, penjernihan pikiran, dan pembebasan hati.”

Maka, marilah kita membuka pintu hati dan pintu keluarga kita bagi Kristus yang lahir di Betlehem. Biarlah Ia tinggal, menyembuhkan, dan memperbarui keluarga-keluarga kita.

Selamat Natal. Tuhan memberkati keluarga kita semua.

 Penulis: Fr. Rio Batlayeri


No comments:

Post a Comment