Peryaan Malam Natal (Vigili
Natal)
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Setiap tahun kita merayakan
Natal. Tema Natal tahun ini adalah “Allah Hadir untuk Menyelamatkan
Keluarga.” Tema ini menjadi sepercik harapan di tengah luka yang dialami
oleh begitu banyak keluarga pada zaman ini. Data yang dirilis oleh Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat bahwa kasus kekerasan
dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia telah mencapai 31.593 kasus.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan jeritan keluarga-keluarga yang
sedang sakit dan terluka.
Di tengah kenyataan pahit ini,
Gereja melalui warta sukacita Natal mengajak kita semua yang berkehendak baik
untuk mengarahkan pandangan dan mengayunkan langkah menuju Betlehem. Kita
diajak untuk bergegas menyambut fajar yang terbit di Betlehem. Dalam keputusasaan,
kebimbangan, ketakutan, dan kehancuran, Malaikat Tuhan berseru:
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar
untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus
Tuhan, di kota Daud.”
Kita belajar dari para gembala. Ketika mereka mendengar warta sukacita Natal, mereka tidak menunda, tidak ragu, dan tidak tinggal diam. Mereka segera bergegas menuju Betlehem. Mereka berjalan menembus malam yang gelap menuju tempat di mana fajar keselamatan terbit. Demikian pula keluarga-keluarga yang terluka dipanggil untuk berani melangkah keluar dari malam kekecewaan, malam sakit hati, malam dendam, malam kekerasan, dan malam perselingkuhan, menuju Betlehem—tempat fajar harapan, fajar sukacita, fajar pengampunan, dan fajar saling pengertian terbit. Di sanalah Penyelamat kita telah datang. Ia datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memulihkan. Ia datang untuk menyelamatkan keluarga. Setiap keluarga yang berjalan dalam kegelapan akan melihat terang yang besar; terang itu memancarkan sukacita dan menyembuhkan ratapan keluarga yang retak.
Saudara-saudari, marilah kita
merenungkan makna Betlehem itu sendiri. Kata Betlehem berasal dari
bahasa Ibrani, Beit Leḥem
(בֵּית לֶחֶם). Beit (בֵּית) berarti rumah atau rumah
tangga, dan Leḥem
(לֶחֶם) berarti roti. Jadi,
Betlehem berarti Rumah Roti. Disebut Rumah Roti karena Betlehem
merupakan daerah pertanian yang subur dan dikenal sebagai penghasil gandum.
Namun, secara lebih mendalam, Betlehem menunjuk pada rumah di mana Yesus, Sang
Roti Hidup yang turun dari surga, hadir dan tinggal di tengah manusia. Roti itu
dibaringkan di palungan (tempat makan ternak) agar kita yang adalah
domba-domba-Nya boleh menimba kehidupan dari satu Roti yang sama.
Selain itu, istilah Betlehem juga
dikenal dalam bahasa Arab, Bayt Laḥm (بَيْت لَحْم).
Bayt (بَيْت) berarti rumah, dan Laḥm (لَحْم) berarti daging—Rumah
Daging. Arti ini sering dikaitkan secara simbolis dengan nubuat Nabi
Yehezkiel tentang tulang-tulang kering yang dihidupkan kembali sebagai tanda
pemulihan. Lebih dalam lagi, makna ini menunjuk pada rumah di mana Sang Sabda
Allah berinkarnasi dan menjadi manusia—menjadi daging—demi keselamatan kita.
Di Betlehem juga kita menemukan
sebuah keluarga sederhana: Yesus, Maria, dan Yusuf. Dalam keluarga ini ada
kehidupan, kasih, ketaatan, pengorbanan, dan harapan. Betlehem bukan sekadar
tempat geografis, melainkan sebuah rumah rohani tempat Allah hadir di tengah
keluarga manusia.
Semoga melalui warta sukacita
Natal ini, setiap keluarga dipersatukan menjadi satu roti yang membawa
kehidupan, bukan kematian; membawa kasih, bukan kebencian; membawa pengampunan,
bukan dendam; membawa pengharapan, bukan rasa bersalah. Semoga keluarga-keluarga
kita menjadi Betlehem-Betlehem baru: tempat fajar harapan terbit, tempat
sukacita bertumbuh, tempat pengampunan mengalir, dan tempat saling pengertian
dirajut setiap hari. Semoga kita berjalan dalam persatuan, sebagaimana Allah
sendiri adalah satu.
Paus Fransiskus mengingatkan
kita:
“Kita tidak memiliki keluarga yang sempurna. Kita tidak punya orang tua yang
sempurna; kita tidak sempurna; kita juga tidak memiliki anak yang sempurna.
Kita memiliki keluhan satu sama lain; kita saling mengecewakan. Tidak ada
pernikahan atau keluarga yang sehat tanpa olah pengampunan. Pengampunan adalah
sterilisasi jiwa, penjernihan pikiran, dan pembebasan hati.”
Maka, marilah kita membuka pintu
hati dan pintu keluarga kita bagi Kristus yang lahir di Betlehem. Biarlah Ia
tinggal, menyembuhkan, dan memperbarui keluarga-keluarga kita.
Selamat Natal. Tuhan memberkati
keluarga kita semua.

No comments:
Post a Comment