“Marilah Kita Mendengarkan” Renungan: Minggu, 29 Maret 2026

 

Kej 12:1-4a; Mzm 33:4-5.18-19.20.22; R:22;2 Tim 1:8b-10;Mat 17:1-9


    Saudara-saudari terkasih, salah satu tantangan masa kini ialah kepongohan batin. Batin yang tuli. Kita sering kali ingin supaya orang lain mendengarkan kita tetapi kita sulit membuka diri untuk mendengarkan orang lain.

    Sering kali ketika kita berdoa, kita memaksa Tuhan untuk mendengarkan kita. Kita datang dengan daftar permohonan yang Panjang sambil memaksa Tuhan mengikuti kehendak kita, tapi kita jarang memberi ruang hening untuk mendengarkan suara Tuhan. Pernahkah kita bertanya dalam doa: “Tuhan apa yang Engkau kehendaki atas hidupku? Di dalam keluarga pun demikian. Suami ingin didengar, istri ingin dimengerti, anak-anak ingin dipahami. Namun masing-masing sulit membuka telinga batinnya bagi yang lain.

    Seringkali pemerintah ingin rakyatnya mendengarkan mereka, tetapi mereka tuli terhadap suara dan jeritan rakyatnya. Contohnya, beberapa waktu lalu saya lihat berita yang dirilis oleh media Vatikan: “ada seroang suster berhasil memulangkan sejumlah korban perdagangan orang di Nusa Tenggara Timur. Perntayaanya dimanakah pemerintah? 

    Yang perlu kita sadari bahwa duni hancur bukan pertama-tama karena ledakan bom tetapi karena manusia berhenti mendengarkan. Negara hancur bukan karena ekonomi yang buruk tetapi pemerintahnya yang tuli. Keluarga retak bukan pertama-tama karena kemiskinan, tetapi karena batin yang tertutup. Gereja bisa terpecah bukan karena perbedaan, tetapi karena tidak ada kerendahan hati untuk saling mendengarkan.

    Hari ini kita belajar dari Abraham. Ia disebut sebagai Bapa orang beriman bukan karena ia mengerti segalanya tetapi karena ia mendengarkan. Ketika Tuhan memanggil, ia taat. Ketika Tuhan meminta dia meninggalkan tanah kelahirannya, Dia percaya dan melakukannya dengan setia. Demikian pula dalam peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung, para murid ingin membangun tiga kemah dan tinggal dalam pengalaman indah itu. Tetapi suara Bapa mengarahkan mereka bukan pada kemah, melainkan pada ketaatan yaitu “Inilah AnakKu yang Kukasihi ‘Dengarkanlah Dia’..” Artinya, sebagai pengikut Kristus, kita tidak dipanggil untuk bukan sekadar menikmati pengalaman rohani tetapi mendengarkan dan melaksanakan Sabda Tuhan Sabda Tuhan dengan setia. Mendengarkan berarti memberi diri dibentuk oleh suara Tuhan. 

Masa Prapaskah ini menjadi kesempatan untuk melatih telinga Rohani. Kita belajar untuk semakin mendengarkan: 

-suara Tuhan daripada suara handphone (HP)

-suara hati daripada mengikuti nafsu

-mendengar Tuhan lebih dari diri sendiri.

Karena ketika kita berhenti menjadi pusat, Kristus menjadi pusat. Dan ketika Kristus menjadi pusat, hidup kita menemukan arah.


Penulis: Fr. Rio Batlayeri

No comments:

Post a Comment